Tentang Rindu, Tentang Ayah.

“Nak, kamu inget, dulu, waktu kamu masih kecil, kamu sama adek kamu suka lari dan berlindung di belakang ayah tiap kali kalian bikin ulah dan bikin ibu marah”

“Nak, kamu inget gak, dulu, tiap ayah pulang kantor, kamu sama adek kamu bakal lari cepet-cepet terus sembunyi dan teriak ‘ayah, cari kami sampe dapet! wek wek’. Setelahnya, ayah bakal nyari kalian satu per satu hingga ketemu.”

“Nak, kamu inget gak, dulu, waktu kamu masih kecil, tiap ayah mau pergi apel ke kantor, kamu suka nangis dan baru akan berhenti menangis jika sudah diajak keliling dengan motor sebelum akhirnya ayah berangkat kerja.”

Cerita-cerita masa kecil itu kembali menguap di antara dua telepon yang menghubungkan seorang anak dan bapaknya yang terpisah jarak ratusan kilometer. Bengkulu, Jakarta. Sumatra, Jawa. Ditengah malam, kala sendu menerjang, kala sepi meradang, kala rindu butuh pemadam.

Beliau mengingat dengan baik tiap-tiap moment tersebut. Tentang tingkahku yang lucu kala belia. Tentang makanan kesukaanku. Tentang semua hal.

Tak jarang tawa meledak diantara rindu yang butuh dipadamkan dengan pertemuan.

Ah, waktu berjalan sangat cepat, ya?

Ku pikir, beberapa bulan yang lalu aku masih tinggal di rumah bersama kedua orangtuaku. Menghabiskan banyak waktu bersama, bercengkrama kala langit mulai gelap atau sekedar memperhatikan kedua orangtuaku tertidur pulas di kamar. Nyatanya tahun sangat cepat berlalu. Hampir empat tahun genap aku merantau. Aku kian tumbuh dewasa, orangtuaku kian menua. Waktu menjadi hal yang sungguh berharga. Pertemuan adalah hal yang selalu dirindukan.

Aku tak tau ternyata aku akan merindukan hal-hal sederhana seperti mendengar percakapan antara ayah dan ibu atau melihat mereka tertidur pulas.

Aku ingin pulang. Sangat ingin pulang; untuk sekedar menikmati secangkir teh hangat di bawah taburan bintang bersama ayah, atau sekedar mendengar percakapan sehari-hari diantara ibu dan ayah. Tapi sekali lagi, urusan orang dewasa tak sesederhana itu.

Aku terikat sejuta urusan yang mengharuskanku tetap tinggal di Jakarta bersama setumpuk tugas dan kegiatan yang masih belum bisa ku tinggalkan.

Dilain hari, ada kala dimana aku, sang anak perempuan tertua dalam keluarga, berusia dua puluh dua tahun, mencoba belajar menggunakan make up dalam kesehariannya. Setelah lama tak berjumpa, beliau; ayahku; berangkat ke Jakarta tuk melepas rindu. Dengan polesan make up sederhana lengkap dengan blush on merah muda di pipi, ku berangkat tuk temui ayah di Pasar minggu. Kala bertemu, beliau memelukku dan mengusap wajahku.

“Nak, wajahmu kenapa merah? Kamu sakit, nak? Kamu demam, nak?” beliau menatap sedikit cemas sembari mengusap wajahku yang kemerahan karena blush oh.

“Yah, ini blush on namanya. Aku nyoba belajar pake make up. Aneh ga yah?”

“Engga aneh kok, anak ayah udah besar, ya.” ujar beliau sembari berhenti berusaha mengusap wajahku.

Aku, seorang perempuan dewasa berusia dua puluh dua tahun ini, akan tetap menjadi gadis kecil ayah. Selamanya.

I’ll always be daddy’s little girl. Age is just a number after all.

Aku

Yang selamanya akan betah dipeluk ayah.

Yang selamanya akan mencintai sosok ayah.

Atas segala cerita-cerita masa kecilku yang sering beliau gumamkan di ujung telepon, atas segala pertanyaan-pertanyaan ‘kapan pulang?’ yang sering terlampir diujung percakapan, aku tau beliau pun rindu.

Tapi sekali lagi, demi cita-cita, aku belum bisa pulang.

Baik-baik disana, yah.

Aku; anak sulungmu, sedang berjuang untuk menjadi kebanggaanmu.

For me,

Ayah is my hero.

 

 

 

 

Jakarta Selatan, 22 April 2018. 02:57 WIB.
Atas nama anak sulung yang merindukanmu.

Advertisements

Family Caregiver; Sang Pengasuh pun Butuh Diperhatikan.

Pernah mendengar kata family caregiver sebelumnya?

Sebelum memaparkan lebih lanjut, saya akan memberi sedikit penjelasan tentang caregiver.

Secara garis besar, caregiver atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai ‘pengasuh’ adalah seorang individu yang merawat dan mendukung individu lain yang memiliki keterbatasan dalam kehidupannya secara umum. Individu disini dapat merujuk pada lansia, orang dengan disabilitas, orang dengan penyakit kronis (penyakit jangka waktu panjang) yang memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas dengan baik.

Dukungan yang diberikan caregiver pun beragam, dapat berupa dukungan emosional, dukungan finansial, memberian perawatan, dan dalam bentuk lain.

Caregiver sendiri dibagi menjadi dua kategori, yaitu caregiver formal dan informal. Caregiver formal adalah mereka yang dilatih dalam melakukan perawatan, seperti tenaga professional yang disediakan rumah sakit, psikiater, hingga perawat. Caregiver informal adalah mereka yang memberikan perawatan tanpa diberi pelatihan sebelumnya, seperti keluarga terdekat, sahabat, teman, hingga tetangga.

Lantas, apakah yang dimaksud dengan family caregiver?

Menurut Reinhard, family caregiver adalah pendamping atau pengasuh informal yang terdiri atas anggota keluarga, sahabat, teman, atau tetangga yang merawat orang yang memiliki penyakit akut atau kronik dan membutuhkan bantuan pendamping untuk melakukan beberapa aktivitas seperti membersihkan diri, mengenakan pakaian, dan minum obat. Berbeda dengan caregiver formal, family caregiver memberikan perawatan tanpa bayaran.

Dewasa ini diketahui bahwa cukup banyak keluarga yang memilih untuk merawat sendiri anggota keluarga mereka yang membutuhkan bantuan dalam menjalankan aktivitas hidupnya. Alasannya pun beragam. Mulai dari anggapan bahwa ‘pasien’ atau orang yang dirawat akan merasa lebih senang secara psikologis saat dirawat di rumah oleh family caregiver hingga alasan biaya. Namun terdapat satu hal yang sering luput dari perhatian;

“Orang-orang yang berperan sebagai family caregiver dan bertugas memberikan perawatan serta perhatian pada ‘pasien’ NYATANYA juga butuh diperhatikan, lho.”

Sering kali orang sekitar menganggap bahwa mengurus ‘pasien’ adalah hal yang mudah dan membiarkan family caregiver melakukan perawatan seorang diri; tanpa bantuan orang lain. Hal tersebut menyebabkan family caregiver menghabiskan banyak waktu luangnya atau bahkan sebagian besar waktunya untuk merawat ‘pasien’ tanpa bantuan orang lain. Tak jarang mereka menjadi tidak dapat melakukan hal-hal yang mereka sukai, hobi, sekedar bersosialisasi, atau bahkan menganggu pekerjaannya karna fokus pada tanggung jawab untuk merawat ‘pasien’.

Kurangnya dukungan lingkungan sekitar; berupa support dan bantuan dari keluarga terdekat, sahabat, dan lingkungan, tingkat keparahan ‘pasien’ yang dirawat, kurangnya waktu untuk diri sendiri atau untuk sekedar bersosialisasi, hingga masalah finansial yang muncul karena terganggunya pekerjaan sang family caregiver, serta beberapa faktor lain pada akhirnya dapat menyebabkan munculnya burden atau beban bagi family caregiver.

Beban-beban yang muncul dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan pada family caregiver, seperti kesulitan tidur dan kesulitan dalam berkonsentrasi, merasa sedih dan kesepian, cemas, putus asa, berkurangnya produktivitas, hilangnya semangat dan napsu makan, kelelahan, mudah marah, sering menangis, menarik diri dari keluarga atau lingkungan sekitar, hingga masalah kejiwaan atau mental illness seperti depresi dan ansietas. Hal-hal tersebut dapat berujung pada buruknya kualitas hidup family caregiver. Selain kualitas hidup yang buruk, tak jarang hal-hal tersebut turut memicu perburukan kondisi kesehatan sang family caregiver.

“Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity” –WHO

Sehat bukan hanya tentang fisik yang kuat dan bebas dari kelemahan atau penyakit, namun juga tentang ‘mental’ atau ‘jiwa’ serta kesejahteraan sosial yang baik. Jika family caregiver yang merawat ‘pasien’ tidak termasuk dalam kategori ‘sehat’, maka bagaimana dengan nasib orang yang mereka rawat?

Jika anda adalah salah satu dari family caregiver, maka mulailah melakukan manajemen stres dengan meluangkan waktu untuk diri sendiri, membuat to-do-list hal-hal yang diprioritaskan agar tidak keteteran dan dapat tetap membagi waktu untuk hal lain meskipun sibuk merawat, dan berbagi cerita pada family caregiver lain. Saat berbagi cerita dengan family caregiver lain, kita akan mendapatkan tips dalam merawat dan turut menguatkan satu sama lain.

Selain itu, untuk memanajemen stres juga dapat dilakukan dengan olahraga teratur. Olahraga teratur berguna untuk menjaga kesehatan fisik dan dapat mengurangi serta melawan stres. Diketahui bahwa olahraga memicu tubuh untuk melepaskan hormon endorfin, dopamin, dan serotonin yang akan menyebabkan anda merasa senang dan merasa lebih baik,

Sangat penting bagi family caregiver untuk mengenali keterbatasan diri dalam melakukan perawatan. Berbagi cerita dengan orang terdekat tentang keadaan yang sedang dialami dapat meringankan beban yang muncul pada family caregiver. Selain berbagi cerita, tak ada salahnya untuk berbagi tugas dengan orang lain dalam melakukan perawatan pada family caregiver.

Jika masih merasakan gejala-gejala di atas, berkonsultasi pada psikolog atau tenaga professional tidak ada salahnya untuk dicoba.

Dear family caregiver, you’re brave than you believe, you’re stronger than you seem, you’re loved more than you’ll ever know. Namun untuk dapat merawat mereka yang engkau kasihi dengan baik, jangan lupa untuk merawat dan memperhatikan dirimu sendiri.

 

 

Artikel ini telah saya kirimkan dan diterbitkan di website resmi pijarpsikologi.org.

Link: http://pijarpsikologi.org/family-caregiver-sang-pengasuh-pun-butuh-diperhatikan/

 

 

Kamu Spesial.

“Aku tak spesial, aku hanyalah perempuan biasa yang tak memiliki kelebihan sama sekali. Aku tak menonjol di bidang akademik pun non akademik. Aku tak memiliki banyak teman. Aku cenderung pendiam. Mana mungkin ada yang menyukaiku?”

Pernah terpikirkan kalimat serupa seperti di atas?

Jengkol.

Mari kita mengumpamakan ‘diri’ sebagai ‘sebakul jengkol’. Buah yang dibenci dan dihindari oleh sebagian besar orang karna baunya yang kurang sedap dan rasanya yang aneh. Tapi pernahkah kamu tau bahwa sebenarnya jengkol adalah sebuah ‘surga’ kenikmatan bagi orang-orang yang tau cara menikmatinya? Jengkol adalah buah yang sangat spesial bagi pecinta jengkol. Siapa sangka ternyata jengkol yang selalu dihindari punya manfaat sungguh besar bagi kesehatan tubuh dan kaya akan kandungan gizi?

Begitupun kamu.

Kamu yang hari ini merasa tak dicintai, tak memiliki sisi spesial, kamu salah besar.

Setiap orang telah diciptakan oleh Tuhan dengan perbedaan dan keunggulan masing-masing. Sebenarnya, tanpa kamu sadari, kamu adalah sosok yang sempurna. Kamu spesial, kamu unik, dan kamu istimewa.

Ya, kamu spesial.

Kamu adalah sosok yang sungguh sempurna di mata seseorang yang mengetahui cara menikmati sisi spesialmu.

Tanpa kamu sadari, ada seseorang yang diam-diam terus menyimpan rasa kagum di hatinya terhadapmu. Tak jarang ia turut mendoakan hal-hal baik teruntukmu agar harimu selalu menyenangkan. Agar setiap langkahmu diridhoi olehNya.

Jika hari ini kamu sedang merasa beruntung, barangkali Tuhan sedang mengabulkan salah satu doa dari ‘orang yang tau cara menikmati sisi spesialmu’ itu.

Jika kamu masih belum merasa spesial, itu hanya karna kamu belum menemukan cara terbaik untuk menikmati sisi spesial yang kamu miliki. Semoga kamu segera tau bagaimana cara menikmati sisi spesialmu, ya!

Ingat selalu, kamu sempurna sebab telah ciptakan oleh Tuhan secara khusus dengan proporsi paling sempurna.

Jadi, jangan lupa tersenyum. Jangan lupa untuk selalu bersyukur.

 Ada yang diam-diam menanti senyum merekah bahagia di bibirmu tanpa kamu tau.

Sebab kamu spesial. ❤

’cause you’re amazing just the way you are.

Intermezzo

Oh, hai!
Bagaimana kabarmu?
Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku menulis, ya? Maaf, belakangan jemariku sedikit kaku untuk merangkai kata. Ideku terlalu banyak dihabiskan untuk skripsi.

Maaf, ya.
Belakangan semua orang cenderung mengeluh karna aku semakin sulit dihubungi. Ntah karena Instagram yang deaktif, atau karena Line dan Whatsapp yang jarang dibuka.

Aku lebih senang menenggelamkan diri dalam buku beberapa minggu terakhir. Beberapa dari mereka adalah novel karya kenamaan, namun bukan tentang cinta. Hampir semua orang tau aku tak pernah begitu menyukai novel yang menyajikan cerita romance.

Sayangnya, aku kekurangan waktu untuk membuat review lengkap tentang buku-buku tersebut untuk disajikan dalam blog. Kamu bisa mengunjungi laman yang bersangkutan dengan hobiku membaca buku di goodreads; http://goodreads.com/deftia

Jikalau punya waktu luang, insyaAllah segera ku torehkan lagi celoteh-celoteh review tentang buku-bukuku atau tentang hasil renungan yang ku pikir akan bermanfaat bagi orang lain. Hehe. And one thing, for me, books are the way to travel across the universe and the best way to escape your mind from everything. There are awesome adventures in every books.

Belakangan aku turut menerbitkan beberapa tulisan tentang ilmu kejiwaan atau psikologi di sebuah portal psikologi, yaitu Pijarpsikologi.org. Jika tertarik, kamu bisa klik linknya disini;

Kekuatan Kalimat Spele yang Tidak Spele.

Perempuan, Beauty Standart, Body Dysmorphic Disorder, dan Eating Disorder.

Semoga bermanfaat!

The more that you read, the more things you’ll know.

Have a nice sunday! xoxo

Long story short.

Dengan seksama, sejak derap pertama jemari mentari menyentuh dingin kaki langit, setiap individu kembali sibuk belajar mengeja bahagianya masing-masing. Sedang sebagian lagi sibuk memaknai kelukaannya dan berunding damai atas segala kekurangan dengan khidmat. Jiwa-jiwa itu merengkuh, mencoba paham bahwa segala sesuatu yang terjadi sepenuhnya adalah kuasa Tuhan.

Dan aku adalah salah satunya.

Kepercayaanku sepenuhnya terpaut pada firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 186, 216, dan 286. Lukaku mengering segera, senyumku mengembang karnanya.

Aku hanya perlu berjuang untuk selalu jadi orang baik. Ntah seberapa jahat orang lain pada seiris hati perempuan yang pernah berjuta-juta kali kecewa, tapi bukankah Allah pernah berfirman dalam surat At Tin ayat 8;

“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”

Pun firman Allah dalam surat Faathir ayat 45;

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatan (dosa) mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”

Maka ku percayakan segala lukaku padaNya.

Teruslah berbuat baik. Teruslah mendoakan hal-hal baik bahkan teruntuk orang yang begitu jahat. Kasihilah semua orang.

“Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya” (HR Bukhari dan Muslim).

Tidaklah pantas bagi kita yang hanya manusia biasa dan sering berbuat kesalahan untuk membenci sesama dan menyimpan dendam pada orang lain sedang Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun bagi umatNya yang penuh dengan kesalahan.

“Bersabarlah, sayang. Semua hal diciptakan pasti disertakan tujuan oleh Tuhan, kan? Ntah guna picu usahamu atau menguji kelapangan dadamu.” —pujukku pada hati yang kadang kurang sabar.

DIJzhgMW0AEdEhc.jpg large.jpg

Saya memohon maaf sebesar-besarnya atas segala dosa yang pernah diperbuat. Baik disengaja maupun yang tidak disengaja. Semoga kita selalu diberi kelapangan hati dan kian lihai belajar ikhlas dalam menghadapi segala sesuatu. Aamiin.

1503758632188.jpg

Kekuatan Super Kalimat Sepele yang Tidak Sepele.

Manusia sebagai mahluk sosial tak lepas dari kegiatan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, manusia menyusun kata per kata hingga menjadi sebuah kalimat yang dapat dimengerti oleh lawan bicaranya. Tapi taukah kamu bahwa sebuah kalimat memiliki kekuatan yang lebih dari sekedar susunan kata?

Sebuah kalimat mampu menjadi pemantik pun menjadi penghancur semangat hidup bagi seorang individu.

“Yaelah, lebai amat lo!” “Dasar caper!” “Yaelah, gitu doang dimasukin ke hati! Kaku banget lo kaya kanebo kering!” “Gitu doang ga bisa, ga becus amat jadi orang.” “Bego lo!” “Dasar jelek!”

Pernah mendengar atau malah mengucapkan kalimat sejenis dengan yang tertulis di atas pada orang lain? Ada baiknya kita mulai introspeksi diri. Sederet kalimat yang mungkin menurut kita sepele dan hanya bahan bercandaan tersebut nyatanya bisa jadi hal yang menyakitkan dan menjadi beban pikiran bagi orang lain. Mereka memikirkan kalimat-kalimat sepele tersebut jauh lebih dalam dari yang bisa kita bayangkan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebuah kalimat mampu menjadi pemantik semangat pun menjadi penghancur semangat hidup orang lain. Dalam hal ini, kalimat-kalimat sepele tersebut sangat mungkin menjadi penghancur semangat bagi seseorang. Efek yang ditimbulkan dari kalimat-kalimat sepele tersebut akan lebih parah jika individu tersebut adalah orang dengan mental illness. Mari kita sebut orang yang berjuang melawan mental illnessnya sebagai “Pejuang”.

Sebelumnya akan saya bahas sedikit tentang mental illness. Mental illness dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan gangguan mental. Orang dengan gangguan mental bukan berarti gila, lho.  Mental illness refers to a wide range of mental health condition – disorders that affect your mood, thinking, and behavior. Beberapa contoh mental illness adalah eating disorder, ansietas (ketakutan atau kecemasan berlebihan), depresi, schizophrenia, dan addictive behaviour. Secara sederhana, mental illness adalah disorder yang menyerang “jiwa” dan turut berefek pada “fisik”.

Para pejuang ini biasanya menjadi sedikit tertutup dengan apa yang mereka rasakan. Ditambah lagi jika orang-orang di sekelilingnya sering menyepelekan mereka dan merespon kurang baik saat mereka berbagi cerita tentang beban hidup mereka. Penggunaan kata-kata sepele yang kurang baik seperti yang sudah dijabarkan di atas yang dilontarkan oleh orang-orang terdekat bisa menjadi salah satu hal yang memperburuk keadaan.

Hal-hal tersebut membuat si pejuang merasa tidak didengarkan, tidak memiliki teman untuk sekedar berbagi cerita, bahkan merasa dunia tak membutuhkannya. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi pikiran mereka. Mereka tak bisa berpikir dengan jernih, pun berpikir dengan logis. Pada tahap ini, tak hanya rasa minder yang muncul, namun sangat mungkin bagi si pejuang untuk melakukan hal-hal seperti menyakiti diri sendiri, atau bahkan bunuh diri.

Ya, dari kalimat sesepele itu, kamu bisa membunuh seorang manusia.

Mereka berjuang melawan pikirannya sendiri. Seorang diri. Mereka menderita namun tak bisa berbagi pada siapapun. Saat ingin bercerita, orang sekitarnya malah menyepelekan dan memberi respon yang buruk. Ditambah lagi kalimat-kalimat sepele yang menyakitkan hati. Mereka merasa tak berguna. Mereka merasa tak dibutuhkan siapapun di dunia ini. Jangankan terpikirkan tentang agama, berpikir logis pun barangkali sudah tak bisa.

Mungkin kita yang bukan merupakan salah satu dari para pejuang tersebut merasa kalimat saya di atas terlalu berlebihan atau malah mengada-ada, tapi percayalah, the struggle is real. Hal tersebut nyata adanya dan sudah banyak bukti nyata.

All you need is, mulai berpikir berkali-kali saat ingin melontarkan sebuah kalimat.

“Apakah kalimat tersebut akan menyakiti orang lain?”

Sebagai orang awam, kadang kita tak bisa membedakan mana orang yang berjuang melawan mental illness dan yang mana yang tidak. Apalagi tak jarang para pejuang mampu menyembunyikan apa yang mereka rasakan dengan senyum dan bertingkah seperti tanpa masalah.

“Be nice to people. You don’t know their struggle. Be kind. You have no idea what people are dealing with in their personal lives.”

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” –HR. Bukhari.

Ya, mulailah berbuat dan berkata baik pada semua orang. Mulailah dari hal-hal kecil seperti menjadi pendengar yang baik saat seseorang ingin berbagi ceritanya padamu. Beri respon seperlunya tanpa menyakiti. Atau barangkali kamu juga bisa mengarahkan mereka untuk kembali ke agama agar menjernihkan pikiran mereka.

Always listening, always understanding. Ya, untuk mengerti orang lain, kita harus rajin mendengarkan, kan?

Mengucapkan “terima kasih” atau “tolong” mungkin juga bisa membantu mereka merasa sedikit dihargai.

Dari hal-hal sesepele itu, kamu bisa menyelamatkan seorang individu, lho.

Bukan berarti kamu harus mendewakan para pejuang atau mendewakan semua orang.  Menjadi pribadi dengan tutur kata yang baik engga ada salahnya, kok. J

And again, as self-reminder, yuk bijaklah dalam menggunakan kata meskipun sedang bercanda. Kita tak pernah tau seberapa parah efek sebuah kalimat sepele tersebut pada orang lain. Sebab beda orang, beda pola pikir pun responnya.

Generasi Sosial Media

Nyaris semua orang menundukan kepalanya, menatap telepon genggamnya dengan seksama saat menanti kereta commuterline jurusan Jakarta kota – Bogor siang ini. Hal serupa juga terlihat ditiap kali momen-momen menunggu tiba. Menunggu antrian return tiket, antri check-in tiket pesawat, bahkan saat kehabisan bahan obrolan pun pandangan akan segera lari ke telepon genggam.

Emang apasih yang dilihat di telepon genggam? Menarik banget emang?

Banyak hal yang membuat telepon genggam jadi ‘super menarik’. Salah satunya sosial media.

Sosial media mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat secara luas. Tak sekedar merubah pola pikir dan pengetahuan, bahkan tak jarang sosial media ikut berpartisipasi mengubah prilaku dan kepribadian manusia secara individu.

Sosial media memberikan dampak yang cukup besar jika tak digunakan secara bijak.

Ya, judul di atas sebenarnya sudah sangat lumrah kita temui. Banyak orang yang barangkali juga merasakan hal serupa. Generasi kekinian dan ketergantungan mereka terhadap sosial media, saya termasuk salah satu diantaranya. Tak jarang beberapa orang malah mendewakan sosial media. Melakukan hal-hal diluar batas wajar demi segelintir like, komen, dan followers di sosial media.

Belum lagi efek yang ditimbulkan dari penyebarluasan informasi simpang-siur atau yang biasa kita sebut sebagai hoax. Lebih parahnya lagi, tak jarang informasi simpang siur tersebut diserap oleh para pembacanya dan disebarluaskan tanpa dicari terlebih dahulu kebenarannya. Hal-hal tersebut kemudian malah menimbulkan kesalahpahaman, ketakutan, kebencian, bahkan dapat berpotensi menjadi pemecah di tengah masyarakat.

Agak memalukan saat menyadari bahwa ketergantungan saya terhadap sosial media cukup parah. Apa-apa ditulis di sosial media, upload di sosial media, cerita di sosial media. Bangun tidur buka telepon genggam, check sosial media. Sebelum tidur check sosial media. Bahkan ketiduran saat sedang ber-sosial media.

Liburan saya kali ini terasa sama sekali tak afdol karna terlalu banyak bersosial media. Setumpuk buku yang saya beli khusus untuk liburan masih menganggur, rencana-rencana yang disusun jauh sebelum liburan pun ikut terbengkalai. Bersosial media di rumah seolah jauh lebih menarik ketimbang aktivitas luar ruangan.

Ya, sedikit banyak saya rindu hidup tanpa sosial media.

Beberapa study terbaru jelas menyatakan bahwa penggunaan sosial media secara berlebihan dapat mempengaruhi banyak hal. Salah satu hal yang paling dipengaruhi adalah kesehatan mental. Menghentikan atau mengurangi penggunaan sosial media dapat membuat seseorang lebih bahagia.

And the point is, kita mungkin belum bisa benar-benar lepas dari sosial media karna kebutuhan atas beberapa informasi yang hanya bisa didapat dari sosial media. Tapi sedikit istirahat, bertingkah lebih bijak dalam penggunaan, dan mengurangi ketergantungan terhadap sosial media tidak akan merugikan, kok.

Sosial media bukan kebutuhan primer ataupun sekunder. You’re not gonna die just because you’re not using your social media frequently.

Jika barangkali ingin membaca lebih banyak tentang benefit ‘istirahat’ dari sosial media, silahkan klik link di bawah ini ya.

The guardian Article: Testimony

Self Article: Correlation between quitting social media and your mental health

Life Advancer Article: Recent study about quitting from social media can make you happier

Pick The Brain Article

Lets take the first step!

Terima kasih telah membaca salah satu tulisan super random saya. Semoga harimu menyenangkan~