MUTASI GEN.

Mutasi gen adalah perubahan yang terjadi pada nukleotida DNA yang membawa “pesan” suatu gen tertentu.
Mutasi gen dibagi menjadi 4:

1. Mutasi titik di dalam sekuens pengode
Mutasi titik (substitusi satu basa) dapat mengubah kode suatu triplet basa dan menyebabkan digantikannya satu asam amino oleh asam amino lain dalam produk gen. Karena mengubah arti kode genetic, mutasi ini sering disebut missense mutation (mutasi salah arti).
Missense mutation dibagi lagi menjadi 2:
Missense mutation konservatif
Jika asam amino pengganti tidak banyak menyebabkan perubahan pada fungsi protein
Missense mutation non-konservatif
Menggantikan asam amino normal dengan asam amino yang sangat berbeda.
Contoh : mutasi sabit yang mengenai rantai beta globin hemoglobin.
Pada keadaan ini, triplet nukleotida CTC (atau GAG di mRNA) yang mengode asam glutamate berubah menjadi CAC (atau GUG di mRNA) yang mengode valin.
Substitusi asam amino ini mengubah sifat fisiokimia hemoglobin dan menyebabkan terjadinya anemia sel sabit. Selain menyebabkan substitusi asam amino, mutasi titik dapat mengubah kodon asam amino menjadi suatu terminator rantai atau kodon stop.
Dengan kembali mengambil contoh beta hemoglobin mutasi titik yang mengenai kodon untuk glutamin (CAG) menghasilkan kodon stop (UAG) jika C diganti dengan U.
Perubahan itu menyebabkan penghentian prematur translasi gen beta globin, dan peptida yang terbentuk akan cepat mengalami penguraian. Individu yang terkena tidak memiliki rantai beta globin dan mengidap suatu bentuk anemia berat yang disebut talasemia beta.

2. Mutasi di dalam sekuens non-coding (atau sekuens yang tidak mengode)
Seperti yang telah diketahui, transkripsi DNA dimulai dan dikendalikan oleh sekuens promotor dan enhancer (penguat) yang terletak disebelah hilir atau hulu dari gen. Mutasi titik atau delesi yang mengenai sekuens-sekuens regulatorik ini dapat mengganggu pengikatan factor transkripsi atau sama sekali tidak terjadi transkripsi. Hal ini terrjadi pada bentuk-bentuk tertentu anemia hemolitik herediter.

Disamping itu mutasi titik di dalam intron menyebabkan gangguan penggabungan sekuens-sekuens antara. Hal ini pada gilirannya, mengganggu pengolahan transkrip mRNA awal dan menyebabkan gagalnya pembentukan transkrip mRNA matur. Oleh karena itu, translasi tidak dapat terjadi dan produk gen tidak disintesis.

3. Delesi dan Insersi
Delesi atau insersi kecil yang melibatkan sekuens-sekuens pengode pada reading frame untai DNA. Oleh sebab itu, mutasi ini disebut sebagai framshift mutation.

Jika jumlah pasangan basa yang terlibat adalah 3 atau kelipatan 3, framshift tidak akan terjadi, yang terjadi adalah terbentuknya protein abnormal yang tidak mengandung 1 atau lebih asam amino tertentu.

4. Mutasi pengulangan trinukleotida.
Mutasi ini termasuk dalam kategori khusus karena mutasi ini ditandai amplifikasi sekuens 3 nukleotida. Meskipun sekuens nukleotida spesifik yang mengalami amplifikasi berbeda-beda. Pada berbagai penyakit, hamper semua sekuens tersebut memiliki nukleotida guanine (G) dan sitosin (C). Contohnya pada Fragile-x syndrome.

Syndrome yang merupakan prototype dari kategori penyakit ini, terdapat 250-4000 pengulangan tandem dari sekuens CGG di dalam suatu gen yang disebut FMR-1.

Pada populasi normal, jumlah pengulangan tidak banyak, rata-rata 29. Ekspansi sekuens trinukleotida tersebut menghambat ekspresi normal gen FMR-1 sehingga terjadi retardasi mental. Gambaran khas lain pada mutasi pengulangan nukleotida adalah bahwa mutasi tersebut bersifat dinamik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s