SPONDILOARTROSIS LUMBAL

lumbar_stenosis_diagnosis02

  1. Definisi

Suatu kelainan degenaratif pada sendi sendi tulang belakang, biasanya menyerang orang dewasa usia pertengahan ke atas.

  1. Etiologi
  • Perubahan degeneratif

Seiring bertambahnya usia, tubuh akan me-ngalami penurunan baik dalam hal gerak maupun fungsinya

  • Trauma

Baik trauma secara langsung maupun tidak langsung. Kebanyakan pasien spondy-loarthrosis lumbal mengaku memiliki riwayat jatuh. Umumnya tidak langsung merasakan tanda dan gejala, tetapi beberapa waktu kemudian baru dirasakan.

  • Kelainan Postur

Postur juga dapat diartikan sebagai posisi atau sikap tubuh, pengaturan bagian tubuh yang relatif untuk aktivitas tertentu, atau me-rupakan suatu karakteristik tubuh seseorang.

  • Stress akibat aktivitas dan pekerjaan, degenerasi diskus juga berkaitan dengan aktivitas-aktivitas tertentu
  • Peran herediter, Faktor genetik mungkin mempengaruhi formasi osteofit dan degenerasi diskus
  • Adaptasi fungsional, Penelitian Humzah and Soames menjelaskan bahwa perubahan degeneratif pada diskus berkaitan dengan beban mekanikal dan kinematik vertebra.
  1. Epidemiologi
  • Jumlah pasien diatas usia 40 tahun yang datang dengan keluhan low back pain ternyata jumlahnya cukup banyak
  • Di Amerika Serikat lebih dari 80% penduduk pernah mengeluh low back pain dan di negara kita sendiri diperkirakan jumlahnya lebih banyak lagi
  • Diperkirakan 80% dari semua orang masyarakat modern selama kehidupan aktifitasnya dan me-rasakan nyeri pinggang
  1. Gejala klinis

yang sering pada L4,5 atau L5-S1

-Nyeri pinggang, akan bertambah jika ada gerakan

-Kaku

-Gerakan terbatas

-Spasme otot

-Hilangnya kurvatura lumbal

-Fleksi terbatas

– Kompresi akar syaraf

-Nyeri yang menjalar

-Parastesia

-Rasa kebal

-Reflek berkurang atau hilang

-Kelemahan otot

-Kemunduran sensorik

  1. Patofisiologi

untitled1           Perubahan patologi yang terjadi pada diskus intervertebralis antara lain:

Annulus fibrosus  menjadi kasar, collagen fiber cenderung melonggar dan muncul retak pada berbagai sisi. Nucleus pulposus kehilangan cairan. Tinggi diskus berkurang. Perubahan ini terjadi sebagai bagian dari proses degenerasi pada diskus dan dapat hadir tanpa menyebabkan adanya tanda-tanda dan gejala. Sedangkan pada corpus vertebra, terjadi perubahan patologis berupa adanya lipping yang disebabkan oleh adanya perubahan mekanisme diskus yang menghasilkan penarikan dari periosteum dari annulus fibrosus. Dapat terjadi dekalsifikasi pada corpus yang dapat menjadi factor predisposisi terjadinya crush fracture.

Pada ligamentum intervertebralis dapat menjadi memendek dan menebal terutama pada daerah yang sangat mengalami perubahan. Pada selaput meningeal, durameter dari spinal cord membentuk suatu selongsong mengelilingi akar saraf dan ini menimbulkan inflamasi karena jarak diskus membatasi canalis intervertebralis.

Terjadi perubahan patologis pada sendi apophysial yang terkait dengan perubahan pada osteoarthritis. Osteofit terbentuk pada margin permukaan articular dan bersama-sama dengan penebalan kapsular, dapat menyebabkan penekanan pada akar saraf dan mengurangi lumen pada foramen intervertebralis.

  1. Pemeriksaan
    • Fisik
    • Keadaan umum
    • Tanda Vital: VAS, BMI
    • Status Generalisata
    • Pemeriksaan muskuloskeletal
    • Penunjang
    • Darah Lengkap
  • Urin Lengkap
  • Pencitraan: X-ray, CT scan, dan MRI digunakan hanya pada keadaan dengan komplikasi.Pemeriksaan densitas tulang (misalnya dual-energy absorptiometry scan [DEXA]) memastikan tidak ada osteofit yang terdapat di daerah yang digunakan untuk pengukuran densitas untuk pemeriksaan tulang belakang.
  1. Tatalaksana

Penatalaksanaan Medis

Terdiri dari pengobatan konservatif dan pembedahan

  • Pada pengobatan konservatif, terdiri dari analgesik dan memakai korset lumbal yang mana dengan mengurangi lordosis lumbalis dapat memperbaiki gejala dan meningkatkan jarak saat berjalan.

Percobaan dalam 3 bulan direkomendasikan sebagai bentuk pengobatan awal kecuali terdapat defisit motorik atau defisit neurologis yang progresif

  • Terapi pembedahan diindikasikan jika terapi konservatif gagal dan adanya gejala-gejala permanen khususnya defisit motorik. Pembedahan tidak dianjurkan pada keadaan tanpa komplikasi. Terapi pembedahan tergantung pada tanda dan gejala klinis, dan sebagian karena pendekatan yang berbeda terhadap stenosis spinalis lumbalis.

Tiga kelompok prosedur operasi yang dapat dilakukan anatara lain:

-Operasi dekompresi

-Kombinasi dekompresi

-Operasi stabilisasi segmen gerak yang tidak stabil

  • Penatalaksanaan Fisioterapi

Tujuan tindakan fisioterapi pada kondisi ini yaitu untuk meredakan nyeri, mengembalikan gerakan, penguatan otot, dan edukasi postur.

Pada pemeriksaan (assessment) yang perlu diidentifikasi adalah:

1)      gambaran nyeri

2)      factor pemicu pada saat bekerja dan saat luang

3)      ketidaknormalan postur

4)      keterbatasan gerak dan faktor pembatasannya

5)      Hilangnya gerakan accessories dan mobilitas jaringan lunak dengan palpasi

  • Program intervensi fisioterapi hanya dapat direncanakan setelah melakukan assessment tersebut. Adapun treatment yang bias digunakan dalam kondisi ini, adalah sebagai berikut:

1)      Heat heat pad dapat menolong untuk meredakan nyeri yang terjadi pada saat penguluran otot yang spasme

2)      Ultrasound, sangat berguna untuk mengobati thickening yang terjadi pada otot erector spinae dan quadratus lumborum dan pada ligamen (sacrotuberus dan saroiliac)

3)      Corsets, bisa digunakan pada nyeri akut

4)      Relaxationdalam bermacam-macam posisi dan juga pada saat istirahat, maupun bekerja. Dengan memperhatikan posisi yang nyaman dan support

5)      Posture education, deformitas pada postur membutuhkan latihan pada keseluruhan alignment tubuh.

6)      Mobilizations, digunakan untuk stiffness pada segment lumbar spine, sacroiliac joint dan hip joint

7)      Soft tissue technique, pasif stretching pada struktur yang ketat sangat diperlukan, friction dan kneading penting untuk mengembalikan mobilitas supraspinous ligament, quadratus lumborum, erector spinae dan glutei

8)      Tractiontraksi osilasi untuk mengurangi tekanan pada akar saraf tetapi harus dipastikan bahwa otot paravertebral telah rileks dan telah terulur.

9)      Hydrotherapyuntuk relaksasi total dan mengurangi spasme otot. Biasanya berguna bagi pasien yang takut untuk menggerakkan spine setelah nyeri yang hebat.

10)  Movementhold relax bisa diterapkan untuk memperoleh gerakan fleksi. Bersamaan dengan mobilitas, pasien melakukan latihan penguatan untuk otot lumbar dan otot hip. 

11) Advice , Tidur diatas kasur yang keras dapat menolong pasien yang memiliki masalah sakit punggung dan saat bangun, kecuali pada pasien yang nyeri nya bertambah parah pada gerakan ekstensi. Jika pasien biasanya tidur dalam keadaan miring, sebaiknya menggunakan kasur yang lembut.

  1. Komplikasi
  • Skoliosis merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan pada penderita nyeri punggung bawah karena Spondilosis.
  • Hal ini terjadi karena pasien selalu memposisikan tubuhnya kearah yang lebih nyaman tanpa mempedulikan sikap tubuh normal.
  • Hal ini didukung oleh ketegangan otot pada sisi vertebra yang sakit.
  1. Prognosis

                   Dubia ad bonam

Hubungi dokter anda untuk dapat didiagnosis dan di tangani dengan tepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s