#BookReview Sang Pemimpi (The Dreamer)

Selamat hari libur!

Setelah enam bulan menguras otak dengan semangat ala kadarnya karna rindu rumah, akhirnya kaki-kaki penuh rindu tanah Sumatra ini berhasil kembali dengan selamat. Pulang menjinjing sebuah totebag berisi beberapa buku yang sudah lama dibeli namun belum sempat dibaca, bahkan masih lengkap dengan sampul plastik dan pricetagnya.

Salah satu dari buku itu adalah novel Sang Pemimpi, karya Andrea Hirata. Sebuah buku mega best seller pemicu semangat. Sebenarnya buku ini sudah pernah saya baca ketika menginjak bangku kelas dua sekolah menengah pertama, namun karna dorongan jiwa-jiwa minim semangat yang selalu kangen rumah ini, akhirnya saya membeli buku ini.

Saya yakin sudah begitu banyak review tentang novel mega best seller yang pertama kali diterbitkan sejak tahun 2006 ini, tapi tiap orang beda pandangan. Berhubung sedang libur dan kurang kerjaan serta keinginan untuk menularkan semangat juang yang Alhamdulillah kembali menggebu setelah membaca ulang novel legendaris ini, maka saya membuat sebuah review novel yang berapi-api ini.

Buku ini ditulis oleh andrea hirata sebagai novel kedua dari tetralogy laskar pelangi. Novel ini juga sudah difilmkan seperti novel pendahulunya. Tapi seperti biasa, imajinasi yang tercipta saat membaca buku jauh lebih menakjubkan ketimbang hanya menonton film. Karna itulah saya suka membaca buku.
Selain Sang Pemimpi, ada buku pembakar semangat lain karya andrea hirata yang paling saya suka, Sebelas Patriot. Oke balik ke Sang pemimpi.

Novel ini masih bercerita tentang Ikal, Arai, Jimbron, dan kehidupannya. Usaha mati-matian untuk mencapai mimpi yang hampir mustahil. Semacam penggugah pikiran bagi pelajar yang masih suka malas-malasan padahal fasilitas lengkap uang mencukupi. Bangun pukul dua pagi untuk menjadi buruh di pasar ikan, mengambil akar yang berada di rawa-rawa yang dihuni buaya untuk dijual, menjadi kuli bangunan, yang semua uangnya kemudian ditabung untuk bisa sekolah di Jakarta, menjelajah Eropa hingga Afrika, dan almamater Sorbonne, Prancis. Dan semua tercapai dengan sempurna.

Saya begitu suka tokoh Ikal dan kecintaannya pada sang Ayah. Hampir di setiap novelnya, ikal selalu menunjukan betapa ia ingin membuat bangga sang ayah yang pendiam.

Cerita Arai ‘Simpai keramat’ yang cintanya bertepuk sebelah tangan dengan Nurmala, usaha-usahanya untuk menaklukan Nurmala, dan kegigihannya untuk mendapatkan hati sang gadis melayu.

Cerita Jimbron yang terlalu terobsesi dengan kuda, usahanya untuk menaklukan hati Laksmi, dan Pangeran Mustika Raja Brana si kuda putih asal Australia milih Capo.

Cerita tentang Laksmi dan semenanjung ayah yang menyedihkan..

Novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca berulang-ulang kali saat anda merasa jenuh belajar. Agar lebih bersyukur atas hidup yang berkecukupan dan lebih berusaha untuk mencetak nilai lebih bagus. Terutama jika kamu punya cita-cita untuk sekolah di luar negeri, buku ini adalah buku yang tepat sebagai penyemangat!

Beberapa kutipan paragraf yang saya suka dari novel ini:

20160130_02595320160130_025838

Selamat Membeli, Selamat Membaca! xoxo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s