Cinta yang Mengubah Duniaku (Buku Motivasi Islami; Dream & Pray)

Cerita ini dikutip dari salah satu bab dalam buku Dream & Pray. Sebuah buku bergenre motivasi islami yang sangat menginspirasi.
Review buku Dream & Pray, klik disini

Saya meyakini bahwa sebuah pertemuan bisa mengubah hidup seseorang. Apalagi, jika kita dipertemukan dengan orang yang menjadi bagian terpenting dalam hidup kita di masa depan. Seseorang yang biasa disebut oleh banyak orang dengan istilah jodoh.

Saat masuk SMA, saya bertekad untuk tidak berpacaran. Kalau harus menyukai seorang gadis, saya harus yakin bahwa ia adalah wanita yang kelak menjadi istri saya, teman hidup saya. Kalau saya belum yakin, saya akan menutup hati rapat-rapat.

Pada hari pertama masuk SMA, semua murid dikumpulkan di lapangan basket sekolah. Seorang kakak kelas memberitahu bahwa saya masuk di barisan 1-3. Saya pun bergerak menuju barisan yang dimaksud. Wajah-wajah yang tidak saya kenal memenuhi barisan itu. Saya berdiri paling depan, membuat mata saya sulit mengenali wajah-wajah asing di belakang. Hingga akhirnya, saat ada kesempatan menoleh ke belakang dan mencoba mengamati teman-teman satu barisan, saya melihat seorang gadis berjilbab panjang yang sangat menarik. Keanggunan tergambar dari teduh tatap matanya, keindahan tampak dari seulas senyum simpulnya.

Bergetar hati saya. Itu hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat dunia saya seakan berhenti berputar. Matahari yang ada di puncak seakan enggan turun ke cakrawala. Awan yang bergerak pelan seakan memilih diam di tempatnya. Seumur hidup, belum pernah saya merasakan saat-saat seperti itu; sepersekian detik yang hingga kini dan selamanya akan selalu saya kenang.

Saya berhasil melewati hari yang paling berbeda dalam hidup saya itu tanpa banyak masalah. Namun, keesokan harinya, perasaan-perasaan yang tidak biasa tiba-tiba datang. Kadang senang, kadang sangat cemas. Kedang merasa tenang, ktapi lebih sering terlihat keblingsatan.

“Ya Allah, kok gini ya? Perasaan saya kok jadi aneh ya?”

Saya bertanya-tanya dalam hati. Celakanya, gadis yang membuat posisi jantung saya seakan tertukar dengan paru-paru itu harus saya lihat lagi. Lagi dan lagi, setiap hari, karena kami ternyata satu kelas.

Nia Agustini nama gadis itu. Setelah pertemuan pertama di lapangan basket, hati saya sering tiba-tiba bertanya,

“Apa dia orangnya?”

Pertanyaan yang aneh untuk anak seusia saya waktu itu. Pelan tapi pasti, perilaku saya berubah, tepatnya tidak lagi ‘natural’. Ya. Harus saya akui, entah mengapa saya selalu ingin menarik perhatiannya. Mencuri-curi pandang, dan diam-diam memperhatikan. Dan, meski belum kenal, saya caper terus-terusan. Ketika masih orientasi siswa baru, saya sebenarnya sudah caper. Berbekal pengalaman jadi vokalis band waktu SMP, saya nyanyi di depan anak-anak satu kelompok, berharap mendapat sedikit perhatian dari gadis cantik incaran saya. Tapi, sia-sia. Dia sangat cuek.

Mamat Hidayatullah, teman yang pertama saya kenal di kelas dan kemudian menjadi sahabat yang paling menyenangkan untuk tempat curhat, berkomentar ketika tahu gelagat orang kasmaran dalam diri saya,

“Perempuan berjilbab kayak gitu mah sukanya sama anak pinter, soleh, baik. Bukan sama pokalis ben kayak kamu! Rambut acak-acakan, baju dikeluarkan.”

Kuping saya seperti tersengat lebah hutan. Tapi, itu ada benarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk berubah. Saya ingin jadi orang yang lebih baik. Kalau diingat-ingat, mungkin ini yang dibilang motivator-motivator dengan istilah memantaskan diri.

Meski niatnya salah (maklum, waktu itu saya masih terbelakang soal agama), saya mencoba menjadi anak baik seperti saran sahabat saya itu. Saya pun memberanikan diri untuk mengambil formulir Rohis. Ya, vokalis band ini daftar jadi anak Rohis. Saya masih ingat, waktu saya datang ke ruang Rohis, ketuanya kaget bukan main. Angina mana yang membawa saya ‘nyasar’ hingga memilih menjadi anak Rohis?! Tapi, pas hari pertama kegiatan Rohis saya ikuti, benar ternyata firasat saya. Gadis incaran saya itu juga masuk Rohis. Yess!!

 Proses pemantasan diri itu saya jalani dengan semangat. Terbayang di benak saya bisa mengambil hati gadis berjilbab itu. Di kelas, saya jadi anak yang paling aktif bertanya (biar kelihatan pintar), kegiatan Rohis tidak pernah bolos, bahkan saya suka menginap di rumah ketuanya (biar jadi anak saleh), ngeband tetap jalan, tapi sambil coba-coba bernasyid ria (biar tetap eksis). Pokoknya, waktu itu saya jadi anak ‘hiperaktif’. Padahal, pas SMP saya biasa-biasa saja, sama sekali tidak aktif dalam kegiatan apapun, malah tukang bikin rebut di kelas (ini namanya aktif juga nggak ya?)

 Tak terasa, setelah setahun proses pemantasan diri itu saya jalani, terjadi perubahan besar yang tidak sadari. Saya yang tidak pernah juara kelas jadi rangking satu di kelas, tidak hanya sekali, tapi tiga caturwulan berturut-turut. Malah, kebiasan juara satu ini keterusan sampai kelas tiga. Saya juga semakin sering terlihat di masjid. Shalat jamaah selalu saya ikuti, majlis taklim tak pernah ketinggalan. Kegiatan apa pun yang diadakan Rohis bisa tidak sah kalau tidak saya hadiri (hehe, becanda!). Meski begitu, kegiatan saya ngeband tetap jalan, tapi dengan sedikit penyesuaian.

 Saya menikmati semua yang saya lakukan, sambil berharap dia tertarik pada saya. Tapi, dia memang orang supercuek yang pernah saya tahu. Itu membuat saya semakin penasaran. Saya lalu shalat Istikharah, dan hasilnya saya semakin yakin dia memang jodoh saya. Namun anehnya, tak berselang lama hati saya dilanda ketakutan.  Karena merasa ingin segera memiliki, saya takut terjebak dakan cinta yang salah. Saya sadar, saya harus bisa mengandalikan perasaan,

Saya sangat bersyukur dengan perubahan yang terjadi dalam diri saya. Saya punya image baru. Saya dikenal sebagai anak yang pintar, aktif berorganisasi, dan vokalis band. Lengkap. Waktu itu, saua sudah bisa menciptakan lagu sendiri dan saya nyanyikan di sekolah. Beberapa lagu bahkan ada yang menyabet juara dalam perlombaan, meski kebanyakan lagu cinta. Namun, pelan-pelan saya memutuskan untu stop main band. Saya ingin fokus mendirikan grup nasyid, karena saya merasa sudah lebih baik dalam memahami ajaran Islam. Saya mulai mengenal Islam dengan baik, menikati kedekatan dengan Allah, dan saya semakin aktif dalam kegiatan Rohis. Puncaknya, saya dicalonkan sebagai ketia Rohis. Celakanga, saya terpilih!!!

Saat menjadi ketua Rohis, saya semakin sibuk dengan kegiatan keislaman. Dan Alhamdulillah, saat saya diberi amanah menajdi ketua, Rohis sekolah kami mendapatkan predikat Rohis terbaik se-kabupaten. Itu adalah prestasi pertama yang sangat membanggakan agi Rohis sekolah kami, karena sebelumnya belum pernah kami mendapatkan predikat semacam itu.

Saat kelas dua, saya pernah membernaikan diri menyampaikan perasaan saya kepada gadis itu. Saya yakin, kalau hanya menyampaikan perasaan sih boleh-boleh saja. Saya juga sampaikan bahwa saya punya niat yang serius dengan maksud itu. Saatnya nanti, saya ingin menikahi dia. Kalau ingat hal itu, saya ingin tertawa sendiri. Anak sekecil itu, berani-beraninya!

 Memantaskan diri di mata gadis itu sudah saya lakukan. Yang saya lupakan adalah memantasnak diri di hadapan Allah. Astagfirullah… di titik kesadaran itu, saya tertunduk malu dan menangis memohon ampun kepada-Nya.

 Waktu berlalu. Tak terasa, sampailah saya di penghujung masa sekolah. Alhamdulillah, kami berdua lulus. Saya kembali memberanikan diri untuk bicara serius tentang masa depan kepadnya. Sebab, saya memutukan kuliah di Bandungm sedangkan dia di Jakarta. Keputusan kami, kami berdua harus saling mengikhlaskan. Belum saatnya menikah, belum pasti juga kapan saya berani meminang. Dia belum siap menikah, begitu juga saya. Jadi, tidak ada komitmen apapun. Artinya, kami tidak perlu merasa terikat, tidak perlu saling menunggu. Kalau di Jakarta dia bertemu jodoh dan menikah tak masalah. Dan jika saya di Bandung bertemu gadis lain dan berjodoh juga tidak mengapa. Tak ada komitmen yang harus kami pegang. Benar-benar saling melepaskan.

 “Ya Allah, aku sangat yakin bahwa janjimu adalah benar, bahwa rencan-Mulah yang terbaik. Jika dia jodohku, jaga dia dalam kebaikan, dan pertemukan kamu kembali di waktu yang tepat untuk bersatu. Jika dia bukan jodohku, aku yakin Kau sudah mempersiapkan seseorang yang lebih baik untukku.”

Demikian doa saya saat itu. Bagaimanapun. Saya tetap mencintai dia. Hanya saja, saya merasa cinta saya lebih tulus dan ikhlas.

 Saat masih baru tingga di Bandung, saya sering membaca doa ini, sambil membersihan hati dari remah-remah kotoran yang tersisa. Alhamdulillah, saya sudah nyaman dengan segala aktivitas saya. Tahun kedua dan ketiga kuliah, saya benar-benar sudah melupakannya. Apalagi, aktivitas saya semakin menumpuk: bisnis kecil-kecilan untuk menutup biaya kuliah, jadi ketua organisasi di kampus, nyanyi dan menulis lagu, dan mengejar prestasi akademik biar dapat beasiswa. Alhamdulillah, semua bisa saya lakukan dengan baik. Saking senangnya dengan Bandung dan aktivitas saya kala itu, pernah saya berpikir mencari calon istri di Bandung saja. Saya memang berniat menikah muda. Jadi, saya mencoba membuka hatipada siapapun. Bumi Allah kan luas. Hehe. Kalaupun di masa lalu ada harapan, harapan itu sudah saya ikhlaskan.

 Selama tingga di Bandung, saya sering meminta ibu mendoakan, dimintakan kelancaran dalam semua hal, termasuk urusan jodoh. Ibu saya seorang ahli tahajud. Saya yakin doa beliau di sepertiga malam terakhir didengar oleh Allah.

 Suatu hari, di tengah aktivitas saya yang padat, saya menerima SMS dari seseorang: Nia Agustini. Jantung saya seakan melompat keluar! Seseorang dari masa lalu kembali, wanita yang pernah sangat saya kagumi itu mengaku menemukan kontas saya di Friendster (Facebook atau Twitter belum lahir, ketahuan deh kira-kira umur saya berapa). Kami lalu saling kontak via handphone. Saat itu, saya sudah di penghujung masa kuliah dan kebetulan belum menemukan seseorang yang saya yakini bisa menjadi isteri yang shaleha. Begitu juga dia, belum menemukan seseorang yang bisa membuatnya yakin menjalani hidup bersamanya.

 Inilah scenario Allah. Hanya Dia yang bisa menjaga hati seperti itu…

Setelah lulus kuliah, saya beranikan diri untuk mengungkapkan kembali niat lama yang pernah saya katakana padanya.

“Saya masih ingin kamu menjadi istri saya, ibu dari anak-anak saya nantinya.”

Doa kami terjawab. Kami akhirnya dipersatukan oleh Allah dan menikah pada tanggal 18 Oktober 2008, tepat saat usia kami 23 tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s