Belajar untuk jadi Dokter yang baik, bukan demi nilai.

Mau jadi dokter kepalanya harus diisi ilmu, hatinya harus diisi empati. Wawasannya harus seluas semesta, hatinya harus selembut sutra.

Kalau bapak ibumu sakit, kamu mau mereka sehat lagi kan? Sama, semua anak di dunia juga gitu. Besok bapak ibu seseorang ditangan kamu, lewat kamu atas seizin Allah dia sembuh.

Kalau kamu kasih bapak ibumu sama dokter yang kemampuannya sama seperti dirimu yang sekarang ini, kamu mau? Sama, orang lain juga gak mau. Jadi apa yang bisa dilakukan? Lebih giat lagi, jauh lebih giat lagi. Yang biasanya selama ini kamu berjalan, sekarang pelan pelan mulai lebih cepat, sampai kamu akhirnya bisa berlari.

Kumpulin lagi keping keping ilmu yang berserak dalam kepala, susun rapi-rapi. Biar pas dicari gak butuh lama. Nanti keburu asistol. Yang masih nyelip sembunyi coba di cari lagi nyelip dimana tuh ilmunya. Yang masih kosong tuh coba diisi tuh kosongnya, penuhin.

Pasang antivirus dalam otaknya, biar gak kacau susunannya. Belajarnya sepanjang masa, ingat. Mau kamu kepaksa kecemplung di dunia ini atau atas dasar cita-cita, itu gak penting lagi sekarang. Kamu udah tanda tangan perjanjian seumur hidup pas milih masuk dunia ini. Jadilah lebih baik setiap harinya, jauh lebih baik dari hari ini. Jangan lupa, hatinya juga diisi sama empati, ini juga penting.

DSAG – 21 Oktober 2016

resource: facebook.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s