Neurolinguistik; Mekanisme Pengaturan Berbahasa pada Otak Melalui Pendengaran.

22221318194788367.png

Nama kamu dipanggil temen kamu —> Suara —> Getaran udara —> menggetarkan membran timpani —> tulang-tulang kecil pendengaran —> Coclea —> Nervus VIII (N. Vestibulokoklearis) —> Thalamus —>Area pendengaran primer (korteks auditori) —> linguistik kode —-> Area Wernicke (analisis kode linguistik dari korteks auditori) —> fasikulus arkuatum—> Area Broca (Penguraian dan koordinasi verbal)—> Korteks Motorik (mengaktifkan otot-otot respirasi, fonas, resonansi, dan artikulasi) —> Respon berupa kita ‘menjawab’ panggilan tersebut.


Penjelasan:
Saat mendengar teman memanggil nama kita, maka getaran udara yang ditimbulkan ‘suara’ tersebut akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membran timpani. Rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil pendengaran (Os. Malleus, Incus, Stapes) dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea.

Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VIII. Rangsang tersebut kemudian ditangkap oleh talamus dan selanjutnya diteruskan ke area korteks auditori (area pendengaran primer) pada girus Heschls.

Area asosiasi auditori akan memilah informasi bermakna yang masuk dan mengkode linguistik. kode linguistik” tersebut kemudian akan dikirim ke lobus temporal kiri untuk diproses, tepatnya ke area Wernicke.

(Proses pengaturan bahasa dominan ada di lobus temporal kiri)

Analisa linguistik dilakukan pada area Wernicke di lobus temporal kiri. Analisa ini menyebabkan manusia memahami informasi yang tadi ia dengar.

Jika area Wernicke terganggu, akan menyebabkan kegagalan memahami bahasa lisan (yang didengar)

Selanjutnya signal pesan yang tadi sudah dianalisis oleh area Wernicke diteruskan melalui fasikulus arkuatum menuju ke area Broca untuk penguraian dan koordinasi verbalisasi pesan tersebut.

Jika area Broca terganggu, maka manusia dapat memahami informasi yang ia terima, namun gagal dalam memproduksi bahasa ucapan. (Dapat berbicara, namun tidak dapat berbahasa).

Dari area Broca, signal pesan akan dihantarkan melalui korteks motorik. Korteks motorik akan mengaktifkan otot-otot respirasi, fonas, resonansi, dan artikulasi. Kemudian manusia akan berbicara sebagai respon terhadap suara yang tadi ia dengar.

Proses tersebut disebut dengan proses dekode dan enkode. Proses dekode dan enkode adalah proses komunikasi.

Conclusion:
Beberapa referensi menyebutkan bahwa pusat bahasa “hanya” berada di lobus temporal kiri, namun ada juga yang menyebutkan bahwa “dominan” lobus temporal kiri.

Area Wernicke adalah sensoris, sedangkan area Broca adalah daerah motorik.

Jika area Wernicke terganggu, akan menyebabkan kegagalan memahami bahasa lisan (yang didengar).

Jika area Broca terganggu, maka manusia dapat memahami informasi yang ia terima, namun gagal dalam memproduksi bahasa ucapan. (Dapat berbicara, namun tidak dapat berbahasa).

Semoga membantu mempermudah dalam memahami. 😊😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s