Renungan, Pengingat Hidup.

Tiap subuh, setelah terbangun sebab alarm yang berbunyi cukup keras, saat tubuh masih merasakan malasnya bangkit dari tempat tidur, kedua matamu dan tubuhmu mungkin masih asik menikmati seluruh hal yang ada di sekelilingmu; tepat di hadapanmu. Punggung yang berhadapan langsung dengan kasur yang empuk, udara sejuk dari pendingin udara, buku-buku favorite dalam rak-rak buku, notifikasi baru di layar handphonemu, hingga mungkin boneka-boneka kecil atau piala-piala kemenanganmu di sudut kamar tidurmu yang luas.

Nanti, semua fasilitas itu akan ditinggalkan. Cepat atau lambat. Mau tidak mau semua akan digantikan dengan sebuah ruang berukuran 2 x 1 meter. Berada di dalam tanah. Ntah tanah berharga ratusan juta, tanah yang diwajibkan membayar sewa tiap tahun, ataupun tanah wakaf.

Ruang itu berdinding, lantai, dan beratapkan tanah. Tak ada televisi, tak ada kasur yang empuk, tak ada pendingin udara, tak ada handphone apalagi instagram. Berbeda dari seluruh kehidupanmu dulu semasa hidup. Tak lagi ada gengsi dan keinginan untuk menjadi ‘paling dilihat’ disini.

Orang yang dulu jadi sahabat, teman bercengkrama, ataupun saudara, dan harta yang dulu kau pamerkan tak kau temui disini.
Hanya sendiri.
Ya, sendirian. Dibalut beberapa lapis kain kafan, berbantalkan gumpalan tanah.
Tubuhmu kaku. Muncul lebam-lebam Postmortem (Livor mortis) di tubuhmu. Tak ada lagi tubuh yang dulu selalu kau jaga, tak ada lagi kulit yang dulu selalu kau rawat.

Nanti, beberapa orang yang menyayangimu akan menangisimu dan rajin mendoakanmu hingga beberapa bulan kemudian beberapa dari mereka mulai lupa dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Beberapa orang masih tetap rajin berdoa untukmu, sebagian lagi hanya berdoa ketika ingat, atau malah tidak sama sekali.

Rumah jasadmu yang baru; kuburanmu, yang dulu selalu bersih dan rajin didatangi oleh orang – orang yang kau kasihi mulai sepi. Mereka mungkin hanya akan datang setahun sekali; sebelum ramadhan, sebelum atau saat lebaran.

Kuburanmu mungkin mulai dipenuhi rumput-rumput kecil dan dedaunan kering sedang di dalamnya kamu sedang sibuk berurusan dengan malaikat yang dulu kau anggap hal spele bahkan jadi bahan becandaan. Nanti, seluruh perilaku, hartamu, hal-hal yang kau lakukan akan dipertanggungjawabkan, termasuk seluruh perkataanmu. Perkataan yang dulu semasa hidup kau lontarkan sebagai lelucon, tapi malah menyakiti perasaan oranglain.

Ah, jika dipikir, sudah cukup banyak kesalahan yang dianggap spele dibiarkan menumpuk. Menumpuk hingga jadi gunung.

Seringkali urusan duniawi mengkungkung pikiran seolah hidup selamanya. Seolah sebab fisik kita detik ini sehat bugar, tak akan meninggal segera atau beberapa jam setelah detik ini.

Tidakkah kita ingat bahwa kematian datang tak jarang secara tiba-tiba?
Banyak orang yang meninggal secara tiba-tiba; sebab angin duduk (Angina Pectoris) atau sebab kecelakaan misalnya. Tak kenal waktu, tak kenal umur, tak kenal tempat, tak kenal jenis kelamin, dan tak peduli seberapa banyak amalan baikmu semasa hidup yang sudah dikumpulkan.

Kematian adalah hal yang paling pasti terjadi dan dapat dipikirkan dengan mudah oleh akal sehat. Semua orang pasti meninggal tanpa terkecuali. Uangmu yang sungguh banyak tak bisa menyogok malaikat Izrail agar menunda kematianmu sekedar 1 atau 2 menit.

“Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan balasan (amal) kalian. Maka, siapa yang (hari itu) dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah sukses besar. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini kecuali (sedikit) kenikmatan yang menipu.” (QS. Ali Imran : 185)

Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kamu tangisi boleh berbicara, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kamu sekalian, niscaya kamu akan melupakan jenazah tersebut dan mulai menangisi dirimu sendiri.” -Imam Al-Ghazali

Tak jarang urusan duniawi seolah lebih penting dari urusan akhirat. Meskipun malas, meskipun susah, berjuanglah untuk (harus) selalu konsisten. Pulang kerja, lelah, ingin tidur, malas shalat? Bangkitlah, shalat! Tak ada yang tau apakah setelah kamu terbangun dari tidur melepas lelah pasca bekerja kamu masih diizinkan hidup olehNya atau tidak.

Umur siapa yang tau?
Mengamalkan agama itu tidak lama, cuma sampai meninggal.
kalau besok meninggal, yaudah sampai besok saja lusa tidak usah.

Mohon maaf jika terdapat kesalahan, Hadaanallah waiyyakum ajma’in. Barakallah fikum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s