#Book Tidak Ada New York Hari Ini, M Aan Mansyur. (Kumpulan Puisi)

DI DEPAN LEMARI PENDINGIN

Ada waktu-waktu tertentu saat langit
melihat semata ada aku berjalan sendiri
ke mana-mana. Aku bicara perihal segala,
tetapi kau tidak mendengar apa-apa. Kau
berpikir, tetapi aku tidak bisa merasakan
detak jantungku sendiri.

Ada saat kau menemukan cinta
adalah umbi-umbian di lemari pendingin.
Mereka tiba-tiba bertunas meskipun sudah
lama lupa rupa dan aroma tanah.

DI DEKAT JENDELA PESAWAT TERBANG

Aku ingin menulis surat. Meminta maaf atas nama cermin dan kaca
jendela, langit dan cahaya, juga segala yang tidak percaya kepada
matamu pada pagi hari. Selamat pagi, Apa kabar? Kenyataan ialah api
yang berkobar di antara dadamu dan inginku. Atau segala apa yang
berkibar di antara anganmu dan tanganku. Di tempat sejauh dan
sedekat ini, tidak ada yang nyata melebihi hal-hal yang kabur dan
mustahil disentuh. Apakah aku tidur di mimpimu?

Mencintai ialah menenggelamkan diri ke dalam lautan hal kecil
yang memiliki kekuatan besar membuatku bersedih. Setiap waktu.
Atau -aku takut kedalaman, kau tahu- menyaksikan hamparan
hutan dari udara dan menyadari seluruh yang tampak hijau adalah
kepedihan. Aku curiga pesawat ini sengaja diciptakan sebagai cara
lain memusnahkan manusia dari bumi.

Rumah terakhir bagi seorang yang kucintai ialah ingatan. Memiliki
kehilangan bukti aku tidak berhenti mencintaimu. Apakah kau akan
berdiri di depan pintu saat aku tiba, seperti biasa, merentangkan
sepasang lengan yang selalu berharap ditubuhi?

AKHIRNYA KAU HILANG

Akhirnya kau pergi dan aku akan
menemukanmu di mana-mana. Di udara
dingin yang menyusup di bwah pintu atau
di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan
dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata
gelandangan yang menyerupai jendela rumah
berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon
warna-warni yang melepaskan diri dari tangan
seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan
menemukanmu di jalan-jalann yang lengang
atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku
menemukanmu di salju yang menutupi kota
seperti perpustakaan raksasa yang meleleh.
Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi,
udara, dan aroma makanan yang kurang
Atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku
yang kosong saat aku pulang dengan kamera
dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak
kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu
kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca
telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan,
katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak
kesedihan dinyanyikan

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku —
dan kenangan kini satu-satunya masa depan
yang tersisa.

DI HALAMAN BELAKANG PUISI INI

Puisi adalah pesta. Seperti ulang tahun atau pernikahan, tetapi benci
perayaan. Ada beranda di halaman belakang buat setiap tamu yang datang.
Aku biarkan orang-orang berbincang dan bersulang dengan diri sendiri.

Aku mungkin tidak berada di sana—
aku sedang duduk menemani diriku
di taman kota atau perpustakaan atau
terjebak pesta berbeda dalam puisi
yang belum dituliskan.

Aku mengundang kau juga. Datanglah.
masuklah. Tak ada kamera tersembunyi
yang mengawasimu seperti di tiap sudut
kota. Di puisiku hanya akan kau temukan
tubuhmu jatuh ke lengan seseorang. Dia
menciummu hingga kau lupa kau pernah
merasa ditinggalkan.

Kau boleh membayangkan dia adalah aku
atau siapa pun yang kau inginkan.

KETIKA ADA YANG BERTANYA TENTANG CINTA

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau
melihat langit membentang lapang. Menyerahkan
diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku
melihat nasib manusia. Terkutuk hidup di bumi
bersama jangkauan lengan mereka yang pendek
dan kemauan mereka yang panjang.

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau
bayangkan aku seekor burung kecil yang murung.
Bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi
dari mata peluru para pemburu.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku
bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa.
Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang
sendiri.

Ketika ada yang bertanya tentang cinta, apakah
sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan
kata-kata atau cukup ketidaksempurnaan
kita?

DI JALAN MENUJU RUMAH

Di jalan menuju rumah, aku tidak mampu
membedakan antara pagi yang lumrah
dan sore yang merah bagai kesedihan
pecah di sepasang matamu.

Aku tidak mampu membedakan kilau
lampu-lampu merkuri di tepi jalan
dan perkara yag tidak bernama
dalam diriku.

Aku tidak mampu membedakan suara
yang memanggil-manggil dari harilalu
dan beku udara yang menggigil
di tulang-tulangku.

Aku tidak mampu membedakan,
apakah bayangmu yang datang
atau tubuhku yang pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s