Perempuan, Depresi, dan Komplikasinya.

Halo! Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat, ya!
Ngomong-ngomong soal sehat, ada yang tau definisi sehat itu apa? apa aja sih syarat yang harus ada untuk menentukan bahwa seseorang dalam keadaan sehat?

Nah menurut WHO, sehat itu adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.

“Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity” -WHO

Jadi, sehat itu bukan hanya tentang tubuh yang kuat, tapi juga “jiwa” atau “mental” yang sehat. “Men Sana In Corpore Sano” kalo kata pepatah Latin.

“Ah, aku lagi depresi nih abis diputusin pacar! Kerjaanku numpuk, bos lagi suka marah-marah! Ah! What a life!”

Depresi.

“Apaan dah depresi? Ah biarin aja. Ntar juga ilang sendiri!”

Depresi bukanlah sebuah kata yang asing bagi telinga kita. Barangkali salah satu dari kita turut mengalaminya tanpa disadari. Kebanyakan orang hanya menyepelekan depresi. Padahal jika disepelekan, depresi dapat menimbulkan banyak  hal yang berbahaya sebagai komplikasinya, lho.

Sebelum lanjut lebih dalam, mari kita telusuri terlebih dahulu definisi depresi menurut WHO. Menurut WHO, depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental dengan karakteristik seperti perasaan sedih berkepanjangan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang dulunya kita sukai, perasaan bersalah atau sering menyalahkan diri sendiri, gangguan suasana hati (mood) mengalami gangguan tidur (insomnia atau hypersomnia) atau gangguan napsu makan, merasa lelah meskipun sudah istirahat dengan cukup, dan konsentrasi yang buruk.

“Depression is a common mental disorder, characterized by sadness, loss of interest or pleasure, feelings of guilt or low self-worth, disturbed sleep or appetite, feelings of tiredness, and poor concentration.” -WHO

Semua karateristik tersebut terjadi sedikitnya selama dua minggu atau lebih untuk dapat dikategorikan sebagai depresi.

Gejala spesifik yang muncul pada penderita depresi antara lain;

GEJALA PSIKOLOGIS:

  • Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
  • Merasa bersedih secara berkepanjangan.
  • Mudah merasa cemas.
  • Merasa hidup tidak ada harapan.
  • Mudah menangis.
  • Merasa sangat bersalah, tidak berharga, dan tidak berdaya.
  • Tidak percaya diri.
  • Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
  • Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.
  • Berpikir atau mencoba bunuh diri.

GEJALA FISIK:

  • Badan selalu merasa lelah.
  • Gangguan pada pola tidur.
  • Merasakan berbagai rasa sakit.
  • Tidak berselera untuk melakukan hubungan seksual.
  • Bergerak atau berbicara lebih lambat.
  • Merasa tidak bisa beristirahat atau kesulitan untuk duduk diam.
  • Berat badan berubah.
  • Sakit kepala.
  • Mengalami kram.
  • Gangguan pencernaan tanpa sebab fisik yang jelas

Depresi adalah bentuk suatu gangguan kesehatan mental yang lebih dari sekedar perubahan emosi sesaat dan kondisi tersebut bukankah keadaan yang dapat diubah dengan cepat atau secara langsung.

Menurut data WHO, setidaknya 350 juta orang di seluruh dunia mengalamani depresi dan lebih dari 800 orang meninggal bunuh diri akibat depresi. Angka yang cukup fantastis, kan?

Penelitian juga menyebutkan bahwa Perempuan lebih dominan menderita depresi ketimbang laki-laki. Bahkan menurut National Mental Health Association di Amerika Serikat, sekitar satu dari delapan perempuan akan mengalami depresi setidaknya sekali seumur hidupnya. Lho, kok bisa?

Pertama, karna faktor ketidakseimbangan hormonal yang biasa terjadi pada perempuan. Saat premenstruasi, kehamilan, melahirkan, dan menopause adalah saat paling rentan perempuan terkena depresi. Diketahui bahwa hormon progesteron pada perempuan menyebabkan terhambatnya proses ‘penonaktifan’ hormon stress.

Kedua, faktor genetik. Perempuan yang memiliki anggota keluarga utama dengan riwayat gangguan mood memiliki risiko yang lebih tinggi. Biasanya depresi karna genetik muncul dominan pada usia 15 – 30 tahun.

Ketiga, faktor lingkungan (social stress), kenangan buruk di masa lalu, tekanan dan tuntutan lingkungan.

Keempat, faktor psikologis. Kebanyakan perempuan biasanya terlalu menonjolkan perasaan, terlalu sensitif, terlalu memikirkan hal-hal kecil, dan mengedepankan pikiran negatif. Perempuan juga cenderung memendam perasaan saat depresi, atau menangis untuk menyalurkan emosi. Tindakan ini ‘dipercaya’ akan memperburuk depresi.

Dewasa ini, masih banyak orang yang menderita depresi namun tidak mengakui kondisi mereka sehingga tidak pernah ditangani atau pun dibicarakan dengan baik. Kebanyakan orang memiliki kepercayaan yang sama; “Ah, cuma depresi. Gak parah kok. Ntar juga ilang sendiri.” Padahal kondisi tersebut dapat menimbulkan banyak komplikasi lain, lho. Beberapa diantaranya seperti hipertensi, peningkatan gula darah secara terus menerus, demensia, hingga muncul keinginan untuk bunuh diri.

Lah, kok bisa menimbukan demensia, sih?

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa orang dengan depresi memiliki risiko lebih tinggi (± 20%) dibandingkan dengan mereka yang tidak. Mekanisme pasti belum diketahui, namun dari banyak kajian jurnal, diketahui bahwa orang dengan depresi memproduksi hormon stress (hormon kortisol) dalam jumlah yang berlebihan.

Kelebihan hormon kortisol dapat menjadi patologis bagi tubuh. Kelebihan hormon kortisol dapat menyebabkan terjadinya atrofi bagian hippocampus otak. Padahal bagian hippocampus otak adalah bagian utama yang mengelola memori dan pembelajaran pada manusia. Pada penyakit demensia, bagian otak yang pertama kali mengalami kerusakan adalah bagian hippocampus.

Lho, kok bisa menyebabkan terjadinya hipertensi (darah tinggi)?

Hal tersebut juga disebabkan pelepasan hormon stress yang bernama ‘kortisol’ secara berlebihan. Hormon tersebut menyebabkan peningkatan sensitifitas jaringan terhadap hormon epinefrin (adrenalin).

Salah satu fungsi hormon epinefrin adalah meningkatkan kinerja kardiovaskular sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Jika depresinya tidak kunjung ditangani, ya hipertensinya bisa makin parah. Apalagi jika orang yang mengalami depresi tersebut memiliki hobi mengkonsumsi makanan tidak sehat. Kemungkinan untuk muncul komplikasi lain seperti sakit jantung bisa turut muncul.

Lho, kok bisa menyebabkan kadar gula darah meningkat terus menerus?

Penyebabnya sama, si hormon kortisol. Hormon kortisol memiliki sifat antagonis terhadap insulin. Jadi ‘gula’ tidak dapat masuk ke dalam jaringan tubuh untuk diubah jadi bahan bakar sel (energi), tapi hanya menumpuk di dalam darah.

Dari penjabaran diatas, apakah kamu atau orang-orang di sekitarmu ada yang mengalami gejala yang serupa? Jika iya, artinya tubuhmu sudah memberikan sebuah “peringatan” untukmu. Don’t be so hard on yourself. Yuk mulai maintenance kesehatan jiwa kita. Jika punya masalah, jangan dipendam, lebih baik diceritakan. Sebab manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan manusia lain.

Oh ya. Jangan lupa perbanyak olahraga, ya! Minimal 30 menit sehari 5 kali dalam seminggu, ya! Diketahui bahwa olahraga seperti aerobik yang dilakukan rutin dapat menyebabkan penurunan aktivitas saraf simpatik dan hypothalamic-pituitary-adrenal yang bertanggung jawab sebagai respon terhadap stress. Dengan melakukan olahraga yang teratur dapat menurunkan pelepasan hormon stress (hormon kortisol) dan epinefrin.

Selain itu, diketahui juga bahwa olahraga dapat menyebabkan terjadinya peningkatan pelepasan hormon serotonin dan endorfin yang biasa disebut dengan ‘hormon bahagia’. Hormon tersebut menyebabkan tubuh merasa rileks, tenang, dan bahagia.

Jangan lupa mengganti makanan tidak sehat anda menjadi makanan yang lebih sehat.

Dan yang paling penting, yuk mulai tingkatkan self-efficacy kamu! Self-efficacy adalah bentuk keyakinan atau kepercayaan diri dalam menyelesaikan dan menghadapi masalah yang ada. This too shall pass, kok. Makin mendekatkan diri ke Tuhan agar segala urusan dimudahkan! 🙂

Jika segala cara sudah dilakukan namun masih merasa depresi, mungkin ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter. Jangan malu berkonsultasi ke dokter, ya. 🙂

Untuk bahan bacaan, bisa diklik link di bawah ini ya;
Jurnal Harvard
Jurnal NCBI
Jurnal NIMH

Have a nice day! ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s