Sosial Media Memicu Depresi?

Anda pengguna sosial media? Berapa jumlah sosial media yang anda gunakan? Apakah anda merasa sedikit ‘iri’, atau ‘tidak suka’, atau bahkan merasa ‘tertekan’ sebab melihat aktivitas menarik yang ditampilkan di sosial media orang lain?

Jika Iya, sudah saatnya anda berlibur dan mengurangi aktivitas anda dari sosial media; digital detox.

Diketahui bahkan rasa iri, tertekan dan rasa ketidaksukaan yang muncul saat melihat ‘foto’ atau aktivitas yang dilakukan orang lain di sosial media adalah beberapa ciri depresi karna sosial media.

Namun belum ada ketentuan resmi dalam “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” yang menjabarkan tanda depresi sebab sosial media sehingga depresi yang disebabkan sosial media belum ditetapkan sebagai mental disorder.

Sosial media memiliki andil cukup besar dalam meningkatnya kasus depresi pada ‘Generasi Kekinian’. Depresi sebab sosial media tak hanya terjadi pada remaja, namun dapat terjadi pada semua umur, baik pada perempuan maupun laki-laki. Perempuan berusia remaja memiliki risiko depresi lebih tinggi ketimbang perempuan usia dewasa atau laki-laki dewasa.

Diketahui bahwa semakin sering seseorang menge-check sosial medianya, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menggunakan sosial media, semakin tinggi pula risiko terkena depresi.

Tak jarang rasa iri dan tertekan muncul saat melihat posting ‘foto’ atau ‘aktivitas’ orang lain yang terlihat menarik. Kita akan membanding-bandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita bahkan merasa kehidupan mereka jauh lebih bahagia daripada kita. Kemudian muncul perasaan seperti;

  • iri hati,
  • emosi berlebihan,
  • moody,
  • rendah diri,
  • stress,
  • cemas berlebihan,
  • merasa sendiri dan kesepian,
  • rasa tertekan,
  • merasakan gejala depresi.

Padahal kenyataannya yang orang-orang tampilkan di sosial media hanya sisi ‘bahagianya’ saja. Tak jarang mereka malah tidak sebahagia di sosial media atau malah yang ditampilkan di sosial media hanyalah ‘topeng’ agar terlihat bahagia.

Selain itu, diketahui bahwa semakin sering seseorang menuliskan hal-hal negatif di sosial medianya, maka pikiran si penulis pun akan ikut-ikutan jadi negatif terus menerus dan pada akhirnya dapat memicu terjadinya depresi.

Menggunakan terlalu banyak akun sosial media juga dapat memicu terjadinya depresi, lho.

Jika kamu merasakan beberapa gejala di atas dan merasa terlalu rutin menggunakan sosial media, sudah saatnya kamu berlibur dalam bersosial media sejenak. Melakukan kegiatan yang bisa me”refresh” pikiran tanpa perlu meng-upload ke sosial media dan melakukan digital detox.

Sosial media itu baik jika tidak digunakan secara berlebihan:)

Untuk bahan bacaan, bisa klik disini:

Your Life Your Voice Org

Psychiatric Article

NCBI Journal

Have a nice day! ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s