Aih, aku suka sekali, tapi..

Aku suka sushi. Suka sekali. Saat tidak mood, aku akan pergi ke restoran sushi untuk menghabiskan waktu seorang diri disana bersama beberapa jenis sushi terhampar di atas meja. Tapi akhirnya hobi makan sushiku harus terhenti setelah sang pelayan memberikan klarifikasi bahwa sushi-sushi di restoran favorite ku itu menggunakan Mirin. Sedih, tapi yasudahlah. Bukankah perintah-Nya lebih penting? Bukankah ridho dari-Nya lebih penting ketimbang sushi yang terasa nikmat hanya di mulut?

Aku suka cake. Suka sekali. Saat stuck belajar, aku akan pergi berkelana menuju outlet cake kesukaan untuk menghabiskan waktu ngemil berbagai macam cake, kopi hangat, dengan tangan kanan sibuk men-stabilo buku tebal. Tapi lagi, hobi ngemil cake di outlet cake favoriteku harus berhenti setelah tau ternyata cake disana menggunakan Rhum. Sedih, tapi yasudahlah. Bukankah perintah-Nya lebih penting? Bukankah ridho dari-Nya lebih penting ketimbang cake yang terasa nikmat hanya di mulut?

Aku sedang menyukai seorang lelaki. Lelaki itu mengubah hal-hal jelek dalam diriku secara perlahan tapi pasti. Mengubah pandangan dan ketakutanku menghadapi dunia yang kadang kelewat kejam. Aku menyukai jam makan siang dimana kita duduk berhadapan, berdua untuk menghabiskan beberapa cemilan dan saling bercengkrama. Lelaki itu baik hatinya, pun lembut tutur katanya. Kalimatnya mengingatkanku berpijak pada bumi. Ah, ia sempurna.

Aku menyukainya. Suka sekali. Bahkan berharap menikah dengannya. Aku suka menatapi wajahnya, matanya yang sungguh teduh, senyumnya yang sungguh hangat, kumis tipisnya, susunan gigi serinya, susunan alisnya yang cukup tebal, dan jemarinya. Ah, bagiku, ia sungguh sempurna. Tapi lagi-lagi, kesukaanku harus berhenti. Lelaki itu bukan muhrimku. Memandangnya adalah zina mata bagiku. Berharap padanya adalah zina hati bagiku.

Rasulullah bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafadz hadits di atas milik Muslim).

وَ لاَ تَقْرَبُوا الزّنى اِنَّه كَانَ فَاحِشَةً، وَ سَآءَ سَبِيْلاً. الاسراء:32

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa’ : 32)

Larangan berduaan.
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi).

Larangan pandang memandang dengan lawan jenis
Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain. Karena pandangan yang pertama mubah untukmu. Namun yang kedua adalah haram (HR. Abu Dawud , At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Aku menyukaimu, suka sekali. Aku ingin terus bersamamu, ingin sekali. Tapi bukankah perintah-Nya lebih penting?

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan pada kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya” – Imam Syafi’i

Maafkan aku. Ku lepaskan hatimu hanya karna-Nya. Biarkan aku mencintaimu dalam do’a. Biarkan rasaku hanya jadi rahasia antara aku dan Allah. Aku kan terus mencoba memantaskan diri dan menjaga hati serta pandanganku teruntukNya. Yakinku, jika kamu adalah lelaki terbaik dari-Nya, suatu hari nanti, tak peduli sejauh apapun kita terpisah, atas seizin-Nya, kita akan dipertemukan lagi namun dalam ikatan yang sah.

Aku menyukaimu, suka sekali. Tapi aku lebih mencintai Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Sebab yakinku hanya Allah yang mengetahui apa yang paling baik untukku.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. (Al Baqarah) 2: 216)

Izinkan aku menyukaimu karna Allah, bukan karna napsu duniawi. Semoga Allah terus menjaga hatiku, pun hatimu. Semoga Allah membantuku memantaskan diri hingga jadi pribadi yang pantas untuk menjadi ibu untuk anak-anak ‘jodohku‘ kelak. Aamiin,
Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s