Senja di Sela Jemari Semesta

Kita bertumbuh. Menjalar liar kesana kemari, tinggalkan bumi kelahiran. Tujuannya satu, mencari pendidikan yang lebih baik.

Bengkulu berganti jadi Jakarta. Pusat ibu kota negara, hiruk pikuknya, dan sengau belantara kota jadi pasanganku kala kau tak ada. Sorak sorai klakson kendaraan kala pagi berderu seru di telingaku. Atau tentang lampu-lampu sepanjang jalan komplek rumah baruku yang memperindah corak bahagia senja teduh di sisi selatan kota Jakarta.

Aku punya banyak cerita tentang bumi Jakarta, barangkali nanti kau ingin dengar ceritaku, sayang?

Dilain waktu, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Menjelajahi sisi bumi Indonesia, atau mungkin benua eropa? Atau tersesat bersama di tempat-tempat luar biasa. Membentuk gurat-gurat cerita menakjubkan bersama untuk diceritakan pada anak-anak, yang barangkali kelak kita sebut sebagai anak-anak kita.

Berdepa-depa kakiku melangkah, aku masih tetap pribadi yang sama. Perempuan berambut sebahu itu masih suka menghabiskan banyak waktu bersama buku-buku di bawah pohon rindang atau sekedar mencari hamparan punggung hijau rumput untuk dipijak. Menenangkan, baginya.

Menghabiskan banyak waktu seorang diri di coffee shop bersama beberapa cake dan buku adalah salah satu hobinya sejak tiba di bumi Jakarta. Lagi, menenangkan, baginya.

Bagi perempuan itu, kini ada perbedaan antara ‘jalan-jalan‘ dan ‘menyegarkan pikiran‘. Jalan-jalan; pergi bersama teman sedang menyegarkan pikiran; pergi seorang diri. Keseimbangan antara pergaulan dan membahagiakan diri, sahutnya.

Perempuan itu sesekali membuat beberapa jenis kue di dapurnya. Aroma sedap jadi pelipur penat kala tak sempat sekedar menjelajah hijaunya Ragunan.

Nanti, kala fajar kau terbangun, ku pastikan makanan kesukaanmu tertata rapi di atas meja, buatanku.

Tak jarang aku patah, nyaris mati tapi percayalah, sayang, aku baik-baik saja.

Aku akan selalu baik-baik saja.

Tumbuh tanpa perlu dipupuk. Merangkak tumbuh menjalar bersama kuncup-kuncup bunga jingga di tiap ketiak-ketiak daunnya. Tumbuh kokoh, belajar agar selalu bisa diandalkan. Belajar bersemi tanpa perlu dimengerti. Sedikit hujan doamu sudah menyegarkan, kok.

Senja meranggas berpadu sejumput rindu menyesakan katub-katub rongga dadaku. Aih, rindu.

Bagaimana senjamu, sayang? Ku harap kau baik-baik saja.

Istirahatlah jika kau lelah. Bukumu tak akan lari jika tak kau tamatkan hari ini, sayang. Rebahkan hatimu, biar rinduku merengkuh jiwamu yang lelah.

Secangkir teh hangat menantimu pulang. Pulang ke rumah; yang barangkali kelak kita sebut sebagai; rumah kita. Kepulan harap membumbung, gelak bahagia mengema penuhi seantero sisi beranda rumah. Bumi memeluk kita dalam nyaman. Memenjara waktu agar tak berlari.

Bolehkah aku menanam rindu pada matamu untuk waktu yang lebih lama lagi, sayang?

Ah, tiba langit menelan mentari. Senja meranggas di sela jemari semesta. Semoga kau tak tersesat dalam perjalanan pulang, sayang.

Pulang,

menujuku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s