Generasi Sosial Media

Nyaris semua orang menundukan kepalanya, menatap telepon genggamnya dengan seksama saat menanti kereta commuterline jurusan Jakarta kota – Bogor siang ini. Hal serupa juga terlihat ditiap kali momen-momen menunggu tiba. Menunggu antrian return tiket, antri check-in tiket pesawat, bahkan saat kehabisan bahan obrolan pun pandangan akan segera lari ke telepon genggam.

Emang apasih yang dilihat di telepon genggam? Menarik banget emang?

Banyak hal yang membuat telepon genggam jadi ‘super menarik’. Salah satunya sosial media.

Sosial media mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat secara luas. Tak sekedar merubah pola pikir dan pengetahuan, bahkan tak jarang sosial media ikut berpartisipasi mengubah prilaku dan kepribadian manusia secara individu.

Sosial media memberikan dampak yang cukup besar jika tak digunakan secara bijak.

Ya, judul di atas sebenarnya sudah sangat lumrah kita temui. Banyak orang yang barangkali juga merasakan hal serupa. Generasi kekinian dan ketergantungan mereka terhadap sosial media, saya termasuk salah satu diantaranya. Tak jarang beberapa orang malah mendewakan sosial media. Melakukan hal-hal diluar batas wajar demi segelintir like, komen, dan followers di sosial media.

Belum lagi efek yang ditimbulkan dari penyebarluasan informasi simpang-siur atau yang biasa kita sebut sebagai hoax. Lebih parahnya lagi, tak jarang informasi simpang siur tersebut diserap oleh para pembacanya dan disebarluaskan tanpa dicari terlebih dahulu kebenarannya. Hal-hal tersebut kemudian malah menimbulkan kesalahpahaman, ketakutan, kebencian, bahkan dapat berpotensi menjadi pemecah di tengah masyarakat.

Agak memalukan saat menyadari bahwa ketergantungan saya terhadap sosial media cukup parah. Apa-apa ditulis di sosial media, upload di sosial media, cerita di sosial media. Bangun tidur buka telepon genggam, check sosial media. Sebelum tidur check sosial media. Bahkan ketiduran saat sedang ber-sosial media.

Liburan saya kali ini terasa sama sekali tak afdol karna terlalu banyak bersosial media. Setumpuk buku yang saya beli khusus untuk liburan masih menganggur, rencana-rencana yang disusun jauh sebelum liburan pun ikut terbengkalai. Bersosial media di rumah seolah jauh lebih menarik ketimbang aktivitas luar ruangan.

Ya, sedikit banyak saya rindu hidup tanpa sosial media.

Beberapa study terbaru jelas menyatakan bahwa penggunaan sosial media secara berlebihan dapat mempengaruhi banyak hal. Salah satu hal yang paling dipengaruhi adalah kesehatan mental. Menghentikan atau mengurangi penggunaan sosial media dapat membuat seseorang lebih bahagia.

And the point is, kita mungkin belum bisa benar-benar lepas dari sosial media karna kebutuhan atas beberapa informasi yang hanya bisa didapat dari sosial media. Tapi sedikit istirahat, bertingkah lebih bijak dalam penggunaan, dan mengurangi ketergantungan terhadap sosial media tidak akan merugikan, kok.

Sosial media bukan kebutuhan primer ataupun sekunder. You’re not gonna die just because you’re not using your social media frequently.

Jika barangkali ingin membaca lebih banyak tentang benefit ‘istirahat’ dari sosial media, silahkan klik link di bawah ini ya.

The guardian Article: Testimony

Self Article: Correlation between quitting social media and your mental health

Life Advancer Article: Recent study about quitting from social media can make you happier

Pick The Brain Article

Lets take the first step!

Terima kasih telah membaca salah satu tulisan super random saya. Semoga harimu menyenangkan~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s